welcome

---- SELAMAT DATANG DI PONDOK HERBAL WANITA SOLUSI TEPAT UNTUK ANDA DAN KELUARGA ----

Selasa, 13 November 2012

Mengkudu

(Morinda citrifolia, Linn.)

Nama Lokal :
Mengkudu (Indonesia); pace, kemudu, kudu (Jawa); cengku (Sunda); kodhuk (Madura); wengkudu (Bali).
Uraian :
Mengkudu termasuk jenis kopi-kopian. Mengkudu dapat tumbuh di dataran rendah sampai pada ketinggian tanah 1500 meter dpl. Mengkudu merupakan tumbuhan asli Indonesia. Tumbuhan ini mempunyai batang tidak terlalu besar dengan tinggi pohon 3-8 meter. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daun 20-40 cm dan lebar 7-15 cm. Bunganya berbentuk bunga bongkol yang kecil-kecil dan berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan berwujud buah buni berbentuk lonjong dengan variasi bintik-bintik. Bijinya banyak dan kecil-kecil terdapat dalam daging buah. Pada umumnya tumbuhan mengkudu berkembang biak secara liar di hutan-hutan atau dipelihara orang di pinggiran-pinggiran kebun rumah.
Khasiat untuk kesehatan untuk.mengobati sakit :
Hipertensi, sakit kuning, demam, influenza, batuk, sakit perut, menghilangkan sisik pada kaki.
Komposisi :
Mengandung zat morinda diol, morindone, morindin, damnacanthal, metil asetil, asam kapril dan sorandiyiol.

Mindi ( Kecil)

(Melia azedarach L.)

Nama Lokal :
Nama daerah Sumatera: renceh, mindi kecil. Jawa : gringging, mindi, cakra-cikri. Nama simplisia Meliae Cortex (kulit kayu mindi kecil), Meliae Fructus (buah mindi kecil).
Uraian :
Mindi kecil kerap kali ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang tumbuh liar di daerah-daerah dekat pantai. Pohon yang tumbuhnya cepat dan berasal dari Cina ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 meter dpl. Pohon yang bercabang banyak ini mempunyai kulit batang yang berwarna coklat tua, dengan tinggi sampai 4 meter. Daunnya majemuk, menyirip ganda, tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm. Anak daun bentuknya bulal telur sampai lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal membulat atau tumpul, permukaan atas daun berwarna hijau tua, bagian bawah hijau muda, panjang 3-7 cm, lebar 1,5-3 cm. Bunga majemuk dalam malai yang panjangnya 10-20 cm, keluar dari ketiak daun. Daun mahkota berjumlah 5, panjangnya sekitar 1 cm, warnanya ungu pucat, dan berbau harum. Buahnya buah batu, bulat, diameter sekitar 1,5 cm. Jika masak warnanya coklat kekuningan, dan berbiji satu. Perbanyakan dengan biji. Biji sangat beracun dan biasa digunakan untuk meracuni ikan atau serangga. Daun yang dikeringkan di dalam buku bisa menolak serangga atau kutu.
Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit :
Kulit kayu dan kulit akar digunakan untuk mengatasi: cacingan, pemakaian luar untuk scabies dan jamur di kulit kepala.
Buah digunakan untuk mengatasi: cacingan, sakit lambung, nyeri perut.
Daun digunakan untuk mengatasi: tekanan darah tinggi.
Komposisi :
Kulit kayu dan kulit akar mengandung toosendanin (C30H38O11) dan komponen yang larut (C30H40O12). Selain itu, juga terdapat alkaloid azaridine (margosina), kaempferol, resin, tanin, n­triacontane, β-sitosterol, dan triterpene kulinone. Kulit akar kurang toksik dibanding kulit kayu. Biji mengandung resin yang sangat beracun, 60% minyak lemak terdiri dari asam stearat, palmitat, oleat, linoleat, laurat, valerianat, butirat, dan sejumlah kecil minyak esensial sulfur. Buah mengandung sterol, katekol, asam vanilat, dan asam bakayanat. Daun mengandung alkaloid paraisina, flavonoid rutin, zat pahit, saponin, tanin, steroida, dan kaemferol.

Murbei

(Morus alba L.)

Nama Lokal :
Besaran (Indonesia); murbai, besaran (Jawa); kerta, kitau (Sumatera).
Uraian :
Tanaman murbei berasal dari Cina, tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 meter dpl. dan memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basa seperti di lereng gunung, tetapi pada tanah yang berdrainase baik. Kadang ditemukan tumbuh liar. Pohon dan tumbuh mencapai tinggi sekitar 9 meter, percabangan banyak, cabang muda berambut halus. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai yang panjangnya 4 cm. Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas dan bawah kasar, panjang 2,5-20 cm, lebar 1,5-12 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk taju, warnanya putih. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna yang terpisah. Murbei berbunga sepanjang tahun. Buahnya banyak berupa buah buni, berair dan rasanya enak. Buah muda warnanya hijau, setelah masak menjadi hitam. Biji kecil, warna hitam. Tumbuhan ini dibudidayakan karena daunnya digunakan untuk makanan ulat sutera. Daun muda enak di sayur dan berkhasiat sebagai pembersih darah bagi orang yang sering bisulan. Perbanyakan dengan stek dan okulasi.
Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit :
Daun berkhasiat untuk: demam karena flu, malaria, batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit gigi, rematik, darah tinggi, kencing manis, kaki gajah, sakit kulit bisul, radang mata merah, memper­banyak air susu ibu (AS]), muntah darah dan batuk darah akibat darah panas, kolesterol tinggi, dan gangguan pada saluran cerna.
Kulit akar berkhasiat untuk: sakit gigi, tidak datang haid, batuk berdahak, sesak napas, muka bengkak, kencing yang nyeri dan susah, dan cacingan.
Buah berkhasiat untuk tekanan darah tinggi, jantung berdebar, kencing manis, rasa haus dan mulut kering, sulit tidur, batuk berdahak, pendengaran berkurang dan penglihatan kabur, telinga berdenging, tuli, tujuh keliling, hepatitis kronis, sembelit pada orang tua, kurang darah, neurastenia, sakit otot dan persendian, sakit tenggorokan, serta rambut beruban sebelum waktunya.
Ranting berkhasiat untuk: rematik, tangan dan kaki terasa baal dan sakit, sakit pinggang, keram pada tangan dan kaki, tekan darah tinggi, serta menyuburkan pertumbuhan rambut.
Komposisi :
Kandungan kimia : daun murbei mengandung ecdysterone, inokosterone, lupeol, beta-sitosterol, rutin, moracetin, isoquersetin, scopoletin, scopolin, alfa-, beta-hexenal, cis-beta-hexenol, cis-lamda-hexenol, benzaidehide, eugenol, linalool benzyl alkohol, butylamine, aceto'ne, trigonelline, choline, adenin, asam amino, copper, zinc, vitamin (A, B1, C dan karoten), klorogenik, asam fumarat, asam folat, asam formyltetrahydrofolik, dan mioinositol. Juga mengandung phytoestrogens. Bagian ranting murbei mengandung tanin dan vitamin A. Buahnya mengandung cyanidin, isoquercetin, sakarida, asam linoleat, asam stearat, asam oleat, dan vitamin (karoten, B1, B2, dan C). Kulit batang mengandung 1, triterpenoids: alfa-,beta-amyrin, sitosterol, sitosterol-alfa-glucoside, 2, flavonoids: morusin, cyclomorusin,; kuwanone A,B,C, oxydihydromorusin, 3, oumarins: umbelliferone, dan scopoletin. Kulit akar mengandung derivat flavone mulberrin, mulberrochromene, cyclomulberrin, cyclomutberro-chromene, morussin, dan mulberrofuran A. Juga mengandung betulinic acid, scopoletin, alfa-amyrin, beta-amyrin, undecaprenol, dan dodecaprenol.

Nanas

(Ananas comosus (l.) Merr)

Nama Lokal :
Sumatera : ekahauku (Enggano); anes (Aceh); nas (Gayo); henas, kenas, honas, hanas (Batak); gona (Nias); asit, nasit (Mentawai); enas, kanas, nanas (Melayu); aneh, naneh (Minangkabau); kanas, kanyas, nas, nyanyas (Lampung). Jawa; danas, ganas (Sunda); nanas (Jawa); lanas, nanas (Madura). Kalimantan: kanas, samblaka, malaka, uro usa, kayu usan, kayu ujan, belasan. Nusa Tenggara: manas (Bali); nanas (Sasak); aruma, fanda, pandal, (Bima); panda (Sumba); nana (Sawu); peda, anana, pedang (Flores); parangena, nanasi (Taluud). Sulawesi: nanati (Gorontalo); lalato (Buol), nanasi (Toraja); pandang (Makasar, Bugis). Maluku; ai nasi, than baba-ba, kai nasi (Seram Timur); bangkalo, kampora, kanasoi (Seram Barat); anasu, banggala, bangkala, kai nasu, kambala, kampala (Seram Selatan); nanasu, anasul (Ulias). Nama simplisia : Ananas Fructus (buah nanas).
Uraian :
Nanas berasal dari Brasil. Di Indonesia, nanas ditanam di kebun-kebun, pekarangan, dan tempat-tempat lain yang cukup mendapat sinar matahari pada ketinggian 1-1300 meter dpl. Nanas merupakan tanaman buah yang selalu tersedia sepanjang tahun. Nanas juga merupakan herba tahunan atau dua tahunan dengan tinggi 50-150 cm, terdapat tunas merayap pada bagian pangkalnya. Daun berkumpul dalam roset akar dan pada bagian pangkalnya melebar menjadi pelepah. Helaian daun bentuk pedang, tebal, liat, panjang 80-120 cm, lebar 2-6 cm, ujung lancip menyerupai duri, tepi berduri tempel yang membengkok ke atas, sisi bawah bersisik putih, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Bunga majemuk tersusun dalam bulir yang sangat rapat, letaknya terminal dan bertangkai panjang. Buahnya buah buni majemuk, bulat panjang berdaging, berwarna hijau, jika masak warnanya menjadi kuning. Buah nanas rasanya enak, asam sampai manis. Bijinya kecil, seringkali tidak jadi. Buahnya selain di makan secara langsung, bisa juga diawetkan dengan cara direbus dan diberi gula, dibuat selai, atau dibuat sirup. Buah nanas juga dapat digunakan untuk memberi cita rasa asam manis, sekaligus sebagai pengempuk daging. Daunnya yang berserat dapat dibuat benang ataupun tali. Tanaman buah nanas dapat. diperbanyak dengan mahkota, tunas batang, atau tunas ketiak daunnya.
Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit :
Rasa penuh di lambung, sembelit, radang tenggorokan, menurunkan berat badan, beri-beri, keseleo, bengkak terpukul, darah mudah menggumpal, penyempitan pembuluh darah, menghambat pertumbuhan tumor, meningkatkan penyerapan obat, terlambat haid, dan cacingan.
Catatan:
-      Ibu hamil dilarang minum perasan buah nanas muda.
-      Buah nanas di dalam saluran cerna difermentasi menjadi alkohol yang dapat menimbulkan kambuhnya rematik Gout.
-      Penderita kencing manis dianjurkan untuk membatasi dalam mengonsumsi buah nanas karena kandungan gula buah yang masak cukup tinggi.
Komposisi :
Buah mengandung vitamin (A dan C), kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula tebu), dan enzim bromelain. Daun mengandung kalsium oksalat dan pectic substances.

Pare

(Momordica charantia L.)

Nama Lokal :
Paria, pare, pare pahit, pepareh (Jawa). Pepare, kambeh, paria (Sumatera). Paya, paria, truwuk, paita, paliak, pariak, pania, pepule (Nusa Tenggara). Poya, pudu, pentu, paria belenggede, palia (Sulawesi).
Uraian :
Pare banyak terdapat di daerah tropika dan dapat tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, tegalan. Pare dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung. Tanaman setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak. Batang berusuk lima, panjang 2-5 meter, yang muda berambut rapat. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1,5-5,3 cm, letak berseling, bentuknya bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, warnanya hijau tua. Taju bergigi kasar sampai berlekuk menyirip. Bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, berwarna kuning. Buah bulat memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbintil-bintil tidak beraturan, panjangnya 8­30 cm, rasanya pahit. Warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan 3 katup. Biji banyak, coklat kekuningan, bentuknya pipih memanjang, keras. Ada 3 jenis tanaman pare, yaitu pare gajih, pare kodok dan pare hutan. Pare gajih berdaging tebal, warnanya hijau muda atau keputihan, bentuknya besar dan panjang dan rasanya tidak begitu pahit. Pare kodok buahnya bulat pendek, rasanya pahit. Pare hutan adalah pare yang tumbuh liar, buahnya kecil-kecil dan rasanya pahit. Untuk memperoleh buah yang panjang dan lurus, biasanya pada ujung buah yang masih kecil digantungkan batu. Daun dari pare yang tumbuh liar, dinamakan daun tundung. Daun ini dikatakan lebih berkhasiat bila digunakan untuk pengobatan.
Daun dan buahnya yang masih muda dimakan sebagai lalap mentah atau setelah dikukus terlebih dahulu, dimasak sebagai sayuran, tumis, sambal goreng, gado-gado, dan sebagainya. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk membunuh serangga. Perbanyakan dengan biji.
Khasiat untuk kesehatan :
Buah      : batuk, radang tenggorokan, haus karena panas dalam, mata sakit dan merah, demam, malaria, pingsan karena udara panas, menambah napsu makan, kencing manis, disentri, rematik gout, memperbanyak air susu (ASI), datang haid sakit, sariawan, infeksi cacing gelang.
Bunga    : pencernaan terganggu.
Daun      : cacingan, luka, abses, bisul, terlambat haid, sembelit, menambah napsu makan, sakit liver, demam, melancarkan ASI, sifilis, kencing nanah, menyuburkan rambut pada anak balita.
Akar      : disentri amuba, wasir.
Biji         : cacingan, impotensi, kanker.
Komposisi :
Kandungan kimia : Daun : momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A dan C serta minyak lemak terdiri dari asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan L.oleostearat. Buah : karantin, hydroxytryptamine, vitamin A, B dan C. Biji: momordisin.

Ciplukan


(Physalis peruviana, Linn.)

Nama Lokal : 
Ciplukan (Indonesia), ceplukan (Jawa), cecendet (Sunda), yor¬yoran (Madura), lapinonat (Seram), angket, kepok-kepokan, keceplokan (Bali), dedes (Sasak), leletokan (Minahasa). 
Uraian : 
Ciplukan merupakan tumbuhan liar, berupa semak/perdu yang rendah (biasanya tingginya sampai 1 meter) dan mempunyai umur kurang lebih 1 tahun. Tumbuhan ini tumbuh dengan subur di dataran rendah sampai ketinggian 1550 meter dpl dan tersebar di tanah tegalan, sawah-sawah kering, serta dapat ditemukan di hutan-hutan jati. Bunganya berwarna kuning, buahnya berbentuk bulat dan berwarna hijau kekuningan bila masih muda, tetapi bila sudah tua berwarna coklat dengan rasa asam-asam manis. Buah ciplukan yang muda dilindungi cangkap (kerudung penutup buah). 
Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit : 
Diabetes melitus, sakit paru-paru, ayan, borok. 
Komposisi :
Buah ciplukan mengandung senyawa kimia asam sitrun dan fisalin. Selain itu buah ciplukan juga mengandung asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin, vitamin C dan gula.

Kembang Pukul Empat


(Mirabilisjalapa Linn.)
 
Nama Lokal :
Kembang pukul empat (Indonesia, Sumatra); kembang pagi sore, bunga waktu kecil (Sumatra); kederat, segerat, tegerat (Jawa); kupa oras, cako raha (Maluku); bunga-bunga paranggi, bunga-­bunga parengki (Sulawesi); pukul ampa, turaga, bodoko sina, bunga tete apa (Sulawesi).
Uraian :
Herba tahunan, tegak, tinggi 20cm - 80cm, berasal dari Amerika Selatan dan banyak ditanam orang sebagai tanaman hias pekarangan atau sebagai pembatas pagar rumah. Tumbuh di dataran rendah yang cukup mendapat sinar matahari maupun daerah perbukitan. Termasuk suku kampah-kampahan berbatang basah, daunnya berbentuk jantung, warna hijau tua panjang 2-11 cm, lebar 8 mm - 7 cm, pangkal daun membulat, ujung meruncing, tepi daun rata, letak berhadapan, mempunyai tangkai daun yang panjangnya 6 mm - 6 cm. Bunganya berbentuk terompet, dengan banyak macam warna, antara lain: merah, putih, jingga, kuning, kombinasi/belang-belang. Mekar di waktu sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Buahnya keras, warna hitam, berbentuk telur, dapat dibuat bedak. Kulit umbinya berwarna coklat kehitaman, bentuk bulat memanjang, panjang 7 cm - 9 cm dengan diameter 2 cm - 5 cm, isi umbi berwarna putih.
Khasiat untuk kesehatan untuk mengobati sakit :
Radang amandel, infeksi saluran kencing, kencing manis, kencing berlemak, keputihan, radang sendi yang akut.
Komposisi :
Kandungan kimia : Akar mengandung betaxanthins. Buah mengandung zat tepung, lemak (4,3%), zat asam lemak (24,4% zat asam minyak (46,9%).